UJIAN NASIONAL MILIKKU

Seperti saat Sayuti Melik ketika mengetik lembar naskah yang sangat menentukan bagi bangsa Indonesia. Para siswa kelas 3 Sekolah Menengah harus menghadapi lembar LJK yang menentukan masa depan mereka. Bagi kebanyakan orang, ujian nasional dirasa tidak adil karena selama 3 tahun menuntut ilmu ditentukan dengan ujian yang kurang dari 1 minggu. Tapi bagi saya, ujian nasional adalah hari-hari yang menyenangkan karena dengan 4 hari dan 4 mata pelajaran yang diujikan, prosentase keberhasilan sangatlah besar. Coba bayangkan kalau semua mata pelajaran masuk dalam ujian nasional, akan semakin sulit untuk lulus dengan nilai yang baik karena otak akan diforsir berhari-hari untuk bekerja keras.

Bicara tentang ujian nasional tidak elok rasanya kalau tidak ada kata “nyontek”. Sebenarnya apa motivasi untuk mencontek ?

Kalau si pencontek tentu ingin mendapat suatu keberhasilan, tapi apa motivasi si pemberi contekan ?

Apakah rasa solider atau kasihan ?

Jika terjadi peristiwa, si pencontek akhirnya lulus sedangkan sipemberi contekan tidak lulus lalu bagaimana ? tidakkah hal itu ironis ? ataukah itu rela berkorban ?

Sebenarnya mengerjakan soal-soal itu mudah. Misalnya, Bahasa Indonesia tidak akan berpaling dari soal cerita, majas, jenis paragraph, ide pokok. Atau matematika yang cara penyelesaiannya tidak akan berubah sampai kapanpun.

Kunci sukses melewati ujian nasional adalah :

  • Bersunguh-sungguhlah ketika disekolah
  • Kerjakan tugas yang biberikan guru
  • Jangan pernah menganggap remeh mata pelajaran yang masuk dalam unas
  • Bangun motivasi belajar
  • Caritahu dalam diri sendiri, apa sebenarnya tujuan anda sekolah
  • Laksanakan kunci sukses ini sejak awal anda masuk sekolah
  • Dan terakhir, coba anda simak dengan teliti dan diingat soal saat try out. Akan ada beberapa soal tersebut yang muncul dalam ujian nasional.

Ada pepetah mengatakan “tidak ada kata terlambat untuk belajar”. Pepatah itu benar tetapi ujian nasional datang setiap tahun dan itu pasti, jika anda terlambat untuk belajar maka masa depan yang anda impikan akan terlambat anda capai.

Iklan

PENDIDIKAN UNTUK CALON GURU DAN KUALITAS GURU

Akhir-akhir ini dunia pendidikan Indonesia sedikit bergejolak, dimana keberadaan GTT menjadi polemik. Karena GTT dianggap sebagai salah satu pembeban anggaran pemerintah dan kualitas mereka dipertanyakan. Akibatnya mereka-mereka yang kurang memiliki kontribusi di rumahkan.

Pemerintah berdalih bahwa GTT salah satu siluman dalam CPNS, bayangkan GTT yang mengabdi kurang dari 3 tahun tiba-tiba menjadi “negeri” bandingkan dengan guru-guru dipelosok antero negeri yang telah mengabdi bertahun-tahun sangat sulit mendapat perhatian, sampai-sampai mereka rela digaji seadanya demi anak-anak calon penerus bangsa ini.

Jujur saya tidak tahu apakah pemerintah membentuk tim untuk menilai/mengevaluasi seorang guru yang sudah “negeri” atau yang masih GTT. Jika yang dipersoalkan dari pendidik Indonesia adalah kualitasnya maka harus menilik kebelakang bagaimana mereka dicetak ( proses pembelajaran yang ditempuh saat diperguruan tinggi ).

Diperguruan tinggi saya banyak mengamati temen-teman saya satu kelas. Dalam kelas itu ( misalkan satu kelas ada 10 orang ) 4 orang bisa memahami apa yang disampaikan dosen, sedangkan 6 orang lainnya ”blas”. Entah apa yang dilakukan mereka sehingga tidak menangkap materi yang diajarkan.

Coba bayangkan jika dalam satu kelas seperti itu lalu bagaimana dengan satu perguruan tinggi ?

Misalkan satu perguruan tinggi berisi 500 orang, maka kurang dari 240 orang yang memiliki kualitas sedangkan 260 orang lainnya bagaimana?

Apakah perlu suatu perguruan tinggi membentuk tim untuk mengevaluasi setiap kelas untuk membagi antara yang pandai dengan yang kurang pandai? Bukan bermaksud melecehkan tetapi yang diutamakan dari seorang guru adalah kualitas. Dan dengan begitu bagi yang kurang berkualitas akan dipacu untuk berusaha dan belajar, agar kualitas mereka nanti menjadi baik didalam ilmu pengetahuan yang akan diampu nantinya.

Atau haruskah bagi yang kurang pandai itu tadi dianjurkan untuk pindah fakultas yang sesuai dengan keahliannya. Bukankah hasil (murid) yang baik ditentukan oleh produk yang baik pula (guru). Dan bukankah keberhasilan murid adalah keberhasilan guru.

Akankah lebih mudah jika hal seperti ini ditangani sejak awal proses sebelum mereka terlanjur melangkah jauh. Karena akan sulit bagi seorang pendidik yang telah mengabdi sekian tahun harus dirumahkan.

Sekali lagi, nasib bangsa ini ada di generasi penerus dan generasi yang berkualitas dihasilkan jika diberi proses belajar yang berkualitas pula.