PENDIDIKAN UNTUK CALON GURU DAN KUALITAS GURU

Akhir-akhir ini dunia pendidikan Indonesia sedikit bergejolak, dimana keberadaan GTT menjadi polemik. Karena GTT dianggap sebagai salah satu pembeban anggaran pemerintah dan kualitas mereka dipertanyakan. Akibatnya mereka-mereka yang kurang memiliki kontribusi di rumahkan.

Pemerintah berdalih bahwa GTT salah satu siluman dalam CPNS, bayangkan GTT yang mengabdi kurang dari 3 tahun tiba-tiba menjadi “negeri” bandingkan dengan guru-guru dipelosok antero negeri yang telah mengabdi bertahun-tahun sangat sulit mendapat perhatian, sampai-sampai mereka rela digaji seadanya demi anak-anak calon penerus bangsa ini.

Jujur saya tidak tahu apakah pemerintah membentuk tim untuk menilai/mengevaluasi seorang guru yang sudah “negeri” atau yang masih GTT. Jika yang dipersoalkan dari pendidik Indonesia adalah kualitasnya maka harus menilik kebelakang bagaimana mereka dicetak ( proses pembelajaran yang ditempuh saat diperguruan tinggi ).

Diperguruan tinggi saya banyak mengamati temen-teman saya satu kelas. Dalam kelas itu ( misalkan satu kelas ada 10 orang ) 4 orang bisa memahami apa yang disampaikan dosen, sedangkan 6 orang lainnya ”blas”. Entah apa yang dilakukan mereka sehingga tidak menangkap materi yang diajarkan.

Coba bayangkan jika dalam satu kelas seperti itu lalu bagaimana dengan satu perguruan tinggi ?

Misalkan satu perguruan tinggi berisi 500 orang, maka kurang dari 240 orang yang memiliki kualitas sedangkan 260 orang lainnya bagaimana?

Apakah perlu suatu perguruan tinggi membentuk tim untuk mengevaluasi setiap kelas untuk membagi antara yang pandai dengan yang kurang pandai? Bukan bermaksud melecehkan tetapi yang diutamakan dari seorang guru adalah kualitas. Dan dengan begitu bagi yang kurang berkualitas akan dipacu untuk berusaha dan belajar, agar kualitas mereka nanti menjadi baik didalam ilmu pengetahuan yang akan diampu nantinya.

Atau haruskah bagi yang kurang pandai itu tadi dianjurkan untuk pindah fakultas yang sesuai dengan keahliannya. Bukankah hasil (murid) yang baik ditentukan oleh produk yang baik pula (guru). Dan bukankah keberhasilan murid adalah keberhasilan guru.

Akankah lebih mudah jika hal seperti ini ditangani sejak awal proses sebelum mereka terlanjur melangkah jauh. Karena akan sulit bagi seorang pendidik yang telah mengabdi sekian tahun harus dirumahkan.

Sekali lagi, nasib bangsa ini ada di generasi penerus dan generasi yang berkualitas dihasilkan jika diberi proses belajar yang berkualitas pula.

2 pemikiran pada “PENDIDIKAN UNTUK CALON GURU DAN KUALITAS GURU

  1. %url% Similar to the uninteresting very first e-mail, the
    dull profile is the most typical issue that most guys have.
    Essentially their profile particulars a checklist of hobbies ‘I like fishing, football, reading, tennis, climbing, the motion pictures, nights in and nights out. Email me if you like the identical.’ Nothing at
    all thrilling there. You have to consider and paint a image with your words.
    Get her imagining the situation in her mind and describe it in vivid
    detail. When she reads it, she will picture herself there with you, which
    is the first stage to her being a portion of your daily life.

    I identified this info out 1st hand. How can companions get one’s hands on meritorious text messaging flirting items? Evidently, it would be gilding the lily. They don’t want it to take place.

    Making your what to say in text to a woman memorable demands a bit of creativity and
    also feel me, third time’s the charm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s