CONTOH SK DAN KD

Silahkan lihat contoh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk SMP / MTsN

word dokumen 5. SK-KD-MATEMATIKA- SMP

Iklan

HARUSKAH MAHASISWA KEGURUAN MENJADI GURU

Apakah seorang mahasiswa pendidikan tinggi keguruan harus menjadi guru?. Inilah polemik yang harus harus dijelaskan. Hal ini bukan hanya PR bagi calon guru saja, tetapi semua pihak ikut andil dalam memajukan dunia keguruan di Indonesia. Tentu yang paling besar ambil peran adalah calon guru, yaitu mahasiswa keguruan. Dengan kata lain mahasiswa keguruan harus senantiasa mengembangkan diri dengan maksimal.

Mengambil guru sebagai profesi berarti menjalankan sebuah profesi yang mulia. Mulia karena kewajiban guru tidak hanya pada murid, tapi juga kepada Tuhan, pada  lembaga, orangtua murid, dan seluruh masyarakat yang terlibat di dunia pendidikan. Oleh karena itu, mahasiswa keguruan harus menanamkan semangat belajar yang tinggi. Kemudian luruskan pikiran dalam menjalani pendidikan.

Mengambil jurusan Keguruan pun haruslah dari hati nurani. Sebab, bagaimana mereka nanti memperoleh motivasi untuk menjadi guru berkualitas jika mereka sendiri tidak menyukai yang dijalaninya. Paradigma seperti itulah yang harus di rubah dan di tata kembali. Karena kalau tidak, masa depan dunia pendidikan tidak akan membaik. Jika kita para mahasiswa keguruan hanya jalan ditempat, maka sebenarnya kita telah mempertaruhkan masa depan bangsa kita sendiri. Bagaimana tidak, jika para calon guru kualitasnya rendah, apakah mungkin bisa membimbing dan mengajar murid-muridnya kelak agar menjadi pribadi yang hebat. Sehingga, ketika ada siswa yang bandel, tidak berprestasi, suka membolos, bolehkah guru langsung seketika menghakimi bahwa itu salah murid sendiri?.

Tidak semuanya salah siswa, jika ada siswa yang bandel, suka membolos dan lain-lain, maka guru juga perlu introspeksi diri, jangan-jangan dirinya ada yang salah dalam sikap, perkataan, perilaku, cara mengajar dan lain-lain. Jadi apapun tujuan awal kita kuliah atau pun jadi guru, yang terpenting susun kembali tujuan kita, kita ubah fokus kita dan kita kembangkan terus kemampuan kita demi generasi penerus bangsa. Dengan begitu kita akan menjadi guru dan calon guru hebat.

Lalu bagaimana jika bukan dari keguruan? Berapa banyak calon astronot, calon polisi, calon dokter, dan calon-calon yang GAGAL, yang akhirnya harus terpaksa berubah haluan jadi seorang mahasiswa keguruan atau telah menjadi guru di sekolah-sekolah negara kita ini? Berdasarkan pengamatan saya, jumlah mereka tidak sedikit. Haruskah kita berbangga hati karena latar belakang guru Indonesia yang berbeda-beda. Saya rasa tidak, tanpa mengurangi rasa hormat kepada guru dengan latar belakang bukan dari jurusan Keguruan.

Tapi yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa memang siapa saja bisa menjadi guru, baik dengan tulus maupun terpaksa. Tidak ada patokan dalam keprofesian guru yang menstandarkan kualifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang guru. Meskipun kita sudah memiliki UU yang mengatur tentang hal itu, tetap saja kebanyakan Kepala Sekolah akan memilih Sarjana bergelar keren lulusan universitas ternama untuk mengajar anak-anak yang dititipkan untuk dididik di sekolah mereka.

Namun bayangkan saja jika orang-orang pintar dalam bidangnya (kecuali dalam kependidikan) tersebut, ditugaskan untuk mendidik. Lucunya lagi, (berdasarkan pengalaman saya) tetap saja para orangtua mengeluh tentang betapa tidak becusnya sekolah dalam mendidik anak mereka, meski telah diajar oleh orang pintar. Tentu saja tidak becus, para gurunya kebanyakan dikuliahkan untuk menjadi pintar, bukan untuk memintarkan orang lain apa lagi mendidik orang lain. Para guru terpaksa ini, kebanyakan tidak memahami metode-metode mengajar, mendidik dan managemen kelas. Yang mereka tahu adalah berbicara tentang ilmu yang mereka kuasai dan berharap semoga murid-murid yang mendengarkan dapat memahami yang mereka katakan. Cara mengajar dan bahan ajar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam pendidikan.

Coba kita sedikit melirik ke negara lain, untuk menjadi seorang guru bukanlah sebuah perkara yang mudah. Ada yang mensyaratkan sekolah khusus bertahun-tahun bagi seseorang untuk dapat menjadi guru, itu pun masih harus mengalami tahun-tahun percobaan terlebih dahulu. Oleh sebab itu, tidak sedikit negara yang menghargai jasa guru dengan materi yang jauh lebih banyak dari dokter atau pengacara. Di negara-negara itu, pendidikannya lebih baik dari di negara kita. Mengapa demikian? Karena, orang-orang yang menjadi guru adalah orang-orang pilihan, bukan mereka yang terbuang ataupun terpaksa. Guru yang baik ini tahu bagaimana caranya mengajar dan mendidik sehingga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membentuk calon-calon penerus dan pemimpin masa depan, demikianlah pendidikan di sana jadi jauh lebih baik daripada pendidikan di sini.

Tetapi tidak semua guru di Indonesia seperti itu. Banyak guru-guru yang memang memiliki panggilan hati untuk mendidik, tak peduli apapun latar belakang pendidikan mereka. Sayangnya, orang-orang yang terpaksa jadi guru jumlahnya lebih banyak lagi. Negara pun sudah mencoba mengatasi hal ini dengan mengadakan berbagai program pelatihan dan sertifikasi, namun tetap saja tidak bisa teratasi. Mereka (guru terpaksa) yang terjun jadi guru karena memang diberikan jalan oleh negara lewat program PPG. Bahkan, para sarjana pendidikan tinggi keguruan tulen pun kerap masih harus menempuh program itu untuk menjadi guru. Seakan-akan perkuliahan selama 4 tahun tidak bernilai jika dibandingkan dengan program yang hanya 1 tahun itu. Betapa mudahnya jadi guru di Negara ini. Kalau dokter butuh lebih dari 5 tahun, guru hanya butuh 1 tahun.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mudah saja, hargailah guru. Hargai guru dengan tidak memperkenankan sembarang orang untuk menjadi guru. Hargai guru dengan memberikan persyaratan yang pantas dan ideal untuk menjadi seorang guru. Hargai guru dengan timbal balik yang setimpal dengan jasa-jasa mereka. Hargai orang-orang yang sudah susah payah sekolah keguruan untuk menjadi seorang guru, jangan berikan penjamin masa depan mereka kepada orang-orang yang terpaksa menjadi guru. Oleh sebab itulah mahasiswa pendidikan tinggi keguruan harus menjadi seorang guru.

 

 

 

CERPEN MATA

“Selamat pagi Nona, ayo bangunlah…”

Matahari pagi yang cerah telah datang kembali mengusir dinginnya kegelapan malam.

“Hey, ayo bangun. Ibu sudah siapkan sarapan di meja.”

Aku tersenyum, lalu sambil membuka mataku kuregangkan badanku setelah semalaman terbujur diranjang. Tapi semua tetap sama saja, gelap tanpa setitik cahaya yang terlihat. Ya, inilah duniaku. Aku berharap saat pagi datang, aku dapat melihat embun yang menempel di dedaunan, menetes di rerumputan, diiringi kicauan burung-burung yang beterbangan dari ranting ke ranting. Tetapi itu hanya impian bagiku.

Hari ini hari Senin, aku tak perlu berangkat ke sekolah seperti anak seusiaku lainnya. Setelah sarapan aku hanya perlu duduk didepan meja belajarku, sambil meraba-raba huruf braile yang ada diatas meja. Aku lebih suka membaca buku atau menyibukkan diri dikamar, daripada berjalan-jalan menghirup udara luar. Bukan karena tidak ada yang mengantar atau karena takut tersesat, tapi aku takut kejadian itu terulang lagi.

Saat aku berjalan-jalan didepan rumah, beberapa anak kecil menghampiriku. Aku tahu lebih dari seorang yang menghampiriku. Setelah mereka berhenti semua terasa sepi, aku dapat merasakan mereka menatapku dengan tatapan mengejek. Kemudian mereka tertawa dan berteriak.

“Orang buta, orang buta!.”

“Udah besar masih buta aja!” Bahkan dari mereka ada yang melempariku dengan kerikil. Sejak saat itulah aku enggan keluar rumah dan lebih suka mengurung diri. Sejak saat itu pula aku tidak pernah bertemu orang lain kecuali Ibuku. Dan aku sangat membutuhkan teman.

Hingga akhirnya Ris datang. Aku tak tahu siapa dia dan dari mana ia berasal. Hanya saja saat pertama kali mengenalnya, ia berkata, “Aku ada hanya untuk kamu. Karena itu, aku minta kamu tidak mengatakan kepada siapapun tentang diriku.”

Sejak itu kami berteman akrab. Ris selalu membangunkanku dengan kata-kata yang manis, ia juga selalu ada saat aku sendirian di kamar. Suatu ketika Ris menawariku sebuah pekerjaan. Sebuah hal yang belum pernah aku bayangkan dan aku pikirkan, ia memintaku menjadi pengajar disebuah yayasan penyandang tuna netra.

Aku sempat menolak tawaran itu, namun Ris terus meyakinkanku agar mau. Setelah menimbang berbagai pertimbangan dan cukup yakin, aku mengiyakan permintaan Ris. Ibu selalu pulang malam, jadi aku bisa mengusir rasa sepi dengan mengajar anak-anak seperti diriku. Ibu bekerja keras mencari uang agar dapat membiayai operasi mataku.

Dari hari ke hari, aku mulai kerasan mengajar di yayasan ini. Semua orang memperlakukanku dengan baik dan sopan. Yayasan tuna netra ini milik teman Ris, dan Ris adalah salah satu donator dan juga menjadi tenaga sukarela untuk mengajar anak-anak tuna netra di yayasan ini. Setiap hari Ris datang menjemputku dari rumah dan mengantarku pulang dengan mobilnya. Ris selalu bisa membuatku tertawa, terhibur saat murung dan tersenyum saat melihatnya. Setiap aku mendengar kata-kata keluar dari mulutnya, aku merasa nyaman tak ada beban yang menempel dipundak.

Setelah 3 tahun kebersamaan kami sebagai rekan kerja, timbul rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Suatu malam Ris datang kerumahku, tak biasanya dia datang malam hari seperti ini. Ibu menuntunku untuk menemui Ris. Kami bertiga kemudian berbicara dengan begitu hangat. Disetiap Ris akan berkata-kata ada tarikan nafas yang diambil, seakan ingin mengucapkan berita yang sangat mengejutkan untuk kami.

Ris datang menemui Ibuku ternyata untuk memintaku menjadi kekasihnya. Seketikan itu suasana terasa sunyi. Ibu menyetujui permintaan Ris, dengan syarat mau menerima keadaanku yang seperti ini.

Di usia pacaran kami yang ke 8 bulan, Ris membawa kabar yang sangat aku tunggu sejak lama.

“Din…. Kamu tidak apa-apa?”

“Aku hanya… Aku hanya sangat bahagia.”

“Ya, aku juga ikut bahagia. Minggu depan kamu akan dioperasi.”

Aku terdiam memegang tangan Ris. “Din? Kenapa diam?”

“Oh, tidak apa-apa. Hanya saja, aku sedikit bingung.”

“Apa yang membuatmu bingung?”

“Bagaimana nanti aku bisa mengenali wajahmu, Ris?”

“Tenang saja, kau tidak perlu bingung soal itu.”

Aku hendak membuka mulut lagi, tapi Ris menutup mulutku dengan jarinya.

“Dunia ini begitu indah. Tapi ingatlah, jangan terjebak oleh keindahannya. Tidak semua orang baik seperti yang kita lihat benar-benar baik hatinya dan belum tentu orang yang diselimuti kegelapan adalah orang yang buruk. Tetap percaya pada nuranimu.”

Sudah hampir 3 minggu ini Ris tidak menemuiku, sampai aku terbaring di ranjang operasi ini. Suara alat-alat terdengan di telingaku. Aku merasa gugup, kemudian tangan kiriku dipegang. Aku merasa mengantuk, lalu terlelap.

Suasana begitu sunyi dan dingin. Aku merasa takut. Apakah operasiku gagal kemudian aku mati. Tiba-tiba terdengar suara memanggilku.

“Din… Jangan takut, tenanglah, semua baik-baik saja. Sebentar lagi kamu akan bisa melihat. Kamu akan bisa melihat embun yang menempel di dedaunan, menetes di rerumputan, diiringi kicauan burung-burung yang beterbangan dari ranting ke ranting. Aku tahu kamu adalah orang yang baik, jadi jangan lupakan mereka yang pernah senasib denganmu. Ingatlah betapa sulit hidup dalam kegelapan dan kesendirian.”

Setelah itu semuanya sunyi kembali.

“Din, lihatlah Ibu, kau sudah siap Nak?”

“Ya, Ibu. Aku hanya terlalu senang.” Sambil tersenyum. Jantungku berdebar kencang. Aku memegang tangan Ibu dengan erat-erat.

Dokter memintaku agar rileks sambil memegang perbanku. Terasa dingin gunting yang menyentuh hidungku. Perbanku mulai dibuka dengan pelan oleh Dokter. Kemudian Dokter memintaku menbuka mata dengan perlahan-lahan. Terlihat seberkas kecil-kecil cahaya di hadapanku, semakin lama semakin banyak dan menyilaukan. Lau semuanya terlihat tampak jelas, tanpa kusadari air mataku menetes dengan sendirinya.

Kulihat seorang wanita cantik disampingku dengan pakaian yang bagus dan rapi.

“Ini Ibu, Nak.”

Ini sungguh luar biasa, Ibu memelukku erat sekali. Ia pun menangis tersedu-sedu. Kuucapkan terima kasih pada Dokter yang telah merawatku dan sejumlah kerabat yang datang menjengukku. Tidak ada satupun dari mereka yang memperkenalkan diri sebagai Ris. Sampai aku pulang ke rumah pun belum ada yang datang dengan nama Ris. Ibu juga tidak menyebut nama itu sekalipun.

Setelah seminggu di rumah, ada sebuah amplop diantar tukang pos. Kubuka amplot itu yang isinya sebuah CD yang berjudul “Dari Risna Pratama”. Aku cepat-cepat masukkan CD itu ke komputer. Didalamnya ternyata berisi foto-fotoku selama aku mengajar dan fotoku dengan seorang pria. Terdapat satu file Word yang isinya :

“…. aku minta maaf karena tidak bisa terus menemani kamu,  ….. aku tulus memberikan mata ini buat kamu, karena aku yakin bahwa kamu tidak akan menyia-nyiakan mataku dengan berbuat buruk. Jangan lupa sama pesanku tempo hari ya. Oh, ya. Aku punya pesan tambahan.  Kalau kamu sudah punya teman yang banyak, tolong jangan lupakan aku. Dan yang terakhir, ini ada alamat tempat tinggal orangtuaku.

 – dari temanmu Risna Pratama