CERPEN MATA

“Selamat pagi Nona, ayo bangunlah…”

Matahari pagi yang cerah telah datang kembali mengusir dinginnya kegelapan malam.

“Hey, ayo bangun. Ibu sudah siapkan sarapan di meja.”

Aku tersenyum, lalu sambil membuka mataku kuregangkan badanku setelah semalaman terbujur diranjang. Tapi semua tetap sama saja, gelap tanpa setitik cahaya yang terlihat. Ya, inilah duniaku. Aku berharap saat pagi datang, aku dapat melihat embun yang menempel di dedaunan, menetes di rerumputan, diiringi kicauan burung-burung yang beterbangan dari ranting ke ranting. Tetapi itu hanya impian bagiku.

Hari ini hari Senin, aku tak perlu berangkat ke sekolah seperti anak seusiaku lainnya. Setelah sarapan aku hanya perlu duduk didepan meja belajarku, sambil meraba-raba huruf braile yang ada diatas meja. Aku lebih suka membaca buku atau menyibukkan diri dikamar, daripada berjalan-jalan menghirup udara luar. Bukan karena tidak ada yang mengantar atau karena takut tersesat, tapi aku takut kejadian itu terulang lagi.

Saat aku berjalan-jalan didepan rumah, beberapa anak kecil menghampiriku. Aku tahu lebih dari seorang yang menghampiriku. Setelah mereka berhenti semua terasa sepi, aku dapat merasakan mereka menatapku dengan tatapan mengejek. Kemudian mereka tertawa dan berteriak.

“Orang buta, orang buta!.”

“Udah besar masih buta aja!” Bahkan dari mereka ada yang melempariku dengan kerikil. Sejak saat itulah aku enggan keluar rumah dan lebih suka mengurung diri. Sejak saat itu pula aku tidak pernah bertemu orang lain kecuali Ibuku. Dan aku sangat membutuhkan teman.

Hingga akhirnya Ris datang. Aku tak tahu siapa dia dan dari mana ia berasal. Hanya saja saat pertama kali mengenalnya, ia berkata, “Aku ada hanya untuk kamu. Karena itu, aku minta kamu tidak mengatakan kepada siapapun tentang diriku.”

Sejak itu kami berteman akrab. Ris selalu membangunkanku dengan kata-kata yang manis, ia juga selalu ada saat aku sendirian di kamar. Suatu ketika Ris menawariku sebuah pekerjaan. Sebuah hal yang belum pernah aku bayangkan dan aku pikirkan, ia memintaku menjadi pengajar disebuah yayasan penyandang tuna netra.

Aku sempat menolak tawaran itu, namun Ris terus meyakinkanku agar mau. Setelah menimbang berbagai pertimbangan dan cukup yakin, aku mengiyakan permintaan Ris. Ibu selalu pulang malam, jadi aku bisa mengusir rasa sepi dengan mengajar anak-anak seperti diriku. Ibu bekerja keras mencari uang agar dapat membiayai operasi mataku.

Dari hari ke hari, aku mulai kerasan mengajar di yayasan ini. Semua orang memperlakukanku dengan baik dan sopan. Yayasan tuna netra ini milik teman Ris, dan Ris adalah salah satu donator dan juga menjadi tenaga sukarela untuk mengajar anak-anak tuna netra di yayasan ini. Setiap hari Ris datang menjemputku dari rumah dan mengantarku pulang dengan mobilnya. Ris selalu bisa membuatku tertawa, terhibur saat murung dan tersenyum saat melihatnya. Setiap aku mendengar kata-kata keluar dari mulutnya, aku merasa nyaman tak ada beban yang menempel dipundak.

Setelah 3 tahun kebersamaan kami sebagai rekan kerja, timbul rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Suatu malam Ris datang kerumahku, tak biasanya dia datang malam hari seperti ini. Ibu menuntunku untuk menemui Ris. Kami bertiga kemudian berbicara dengan begitu hangat. Disetiap Ris akan berkata-kata ada tarikan nafas yang diambil, seakan ingin mengucapkan berita yang sangat mengejutkan untuk kami.

Ris datang menemui Ibuku ternyata untuk memintaku menjadi kekasihnya. Seketikan itu suasana terasa sunyi. Ibu menyetujui permintaan Ris, dengan syarat mau menerima keadaanku yang seperti ini.

Di usia pacaran kami yang ke 8 bulan, Ris membawa kabar yang sangat aku tunggu sejak lama.

“Din…. Kamu tidak apa-apa?”

“Aku hanya… Aku hanya sangat bahagia.”

“Ya, aku juga ikut bahagia. Minggu depan kamu akan dioperasi.”

Aku terdiam memegang tangan Ris. “Din? Kenapa diam?”

“Oh, tidak apa-apa. Hanya saja, aku sedikit bingung.”

“Apa yang membuatmu bingung?”

“Bagaimana nanti aku bisa mengenali wajahmu, Ris?”

“Tenang saja, kau tidak perlu bingung soal itu.”

Aku hendak membuka mulut lagi, tapi Ris menutup mulutku dengan jarinya.

“Dunia ini begitu indah. Tapi ingatlah, jangan terjebak oleh keindahannya. Tidak semua orang baik seperti yang kita lihat benar-benar baik hatinya dan belum tentu orang yang diselimuti kegelapan adalah orang yang buruk. Tetap percaya pada nuranimu.”

Sudah hampir 3 minggu ini Ris tidak menemuiku, sampai aku terbaring di ranjang operasi ini. Suara alat-alat terdengan di telingaku. Aku merasa gugup, kemudian tangan kiriku dipegang. Aku merasa mengantuk, lalu terlelap.

Suasana begitu sunyi dan dingin. Aku merasa takut. Apakah operasiku gagal kemudian aku mati. Tiba-tiba terdengar suara memanggilku.

“Din… Jangan takut, tenanglah, semua baik-baik saja. Sebentar lagi kamu akan bisa melihat. Kamu akan bisa melihat embun yang menempel di dedaunan, menetes di rerumputan, diiringi kicauan burung-burung yang beterbangan dari ranting ke ranting. Aku tahu kamu adalah orang yang baik, jadi jangan lupakan mereka yang pernah senasib denganmu. Ingatlah betapa sulit hidup dalam kegelapan dan kesendirian.”

Setelah itu semuanya sunyi kembali.

“Din, lihatlah Ibu, kau sudah siap Nak?”

“Ya, Ibu. Aku hanya terlalu senang.” Sambil tersenyum. Jantungku berdebar kencang. Aku memegang tangan Ibu dengan erat-erat.

Dokter memintaku agar rileks sambil memegang perbanku. Terasa dingin gunting yang menyentuh hidungku. Perbanku mulai dibuka dengan pelan oleh Dokter. Kemudian Dokter memintaku menbuka mata dengan perlahan-lahan. Terlihat seberkas kecil-kecil cahaya di hadapanku, semakin lama semakin banyak dan menyilaukan. Lau semuanya terlihat tampak jelas, tanpa kusadari air mataku menetes dengan sendirinya.

Kulihat seorang wanita cantik disampingku dengan pakaian yang bagus dan rapi.

“Ini Ibu, Nak.”

Ini sungguh luar biasa, Ibu memelukku erat sekali. Ia pun menangis tersedu-sedu. Kuucapkan terima kasih pada Dokter yang telah merawatku dan sejumlah kerabat yang datang menjengukku. Tidak ada satupun dari mereka yang memperkenalkan diri sebagai Ris. Sampai aku pulang ke rumah pun belum ada yang datang dengan nama Ris. Ibu juga tidak menyebut nama itu sekalipun.

Setelah seminggu di rumah, ada sebuah amplop diantar tukang pos. Kubuka amplot itu yang isinya sebuah CD yang berjudul “Dari Risna Pratama”. Aku cepat-cepat masukkan CD itu ke komputer. Didalamnya ternyata berisi foto-fotoku selama aku mengajar dan fotoku dengan seorang pria. Terdapat satu file Word yang isinya :

“…. aku minta maaf karena tidak bisa terus menemani kamu,  ….. aku tulus memberikan mata ini buat kamu, karena aku yakin bahwa kamu tidak akan menyia-nyiakan mataku dengan berbuat buruk. Jangan lupa sama pesanku tempo hari ya. Oh, ya. Aku punya pesan tambahan.  Kalau kamu sudah punya teman yang banyak, tolong jangan lupakan aku. Dan yang terakhir, ini ada alamat tempat tinggal orangtuaku.

 – dari temanmu Risna Pratama

 

 

 

2 pemikiran pada “CERPEN MATA

  1. Dari hari ke hari, aku mulai kerasan mengajar di yayasan ini. Semua orang memperlakukanku dengan baik dan sopan. Yayasan tuna netra ini milik teman Ris, dan Ris adalah salah satu donator dan juga menjadi tenaga sukarela untuk mengajar anak-anak tuna netra di yayasan ini. Setiap hari Ris datang menjemputku dari rumah dan mengantarku pulang dengan mobilnya. Ris selalu bisa membuatku tertawa, terhibur saat murung dan tersenyum saat melihatnya. Setiap aku mendengar kata-kata keluar dari mulutnya, aku merasa nyaman tak ada beban yang menempel dipundak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s